Senin, 22 Januari 2018

Mereka Bilang Engkau Ada

Saya mengenal seorang wanita cantik yang memiliki kehidupan di atas rata-rata wanita kebanyakan. 
Suami yang mengasihi, pelayan gereja yang aktif, fasilitas yang mendukung, agenda perjalanan ke tiga benua setiap tahun, komunitas yang menghargai, namun tidak dikaruniai anak.
Berbagai usaha telah dilakukan. Tidak sedikit biaya yang telah dikeluarkannya.
Pujian dan doa, sebagaimana yang diajarkan di kelas melayani, merupakan santapan, makan siang dan makan malam pasangan ini. Bahkan merupakan teman minum teh pula.
Iman perempuan ini sanggup membuat mereka berteguh hati dan menyatakan agar kehendak Tuhan saja yang jadi. Biarkan Tuhan yang membuat semua nya indah pada waktu Nya.
Memasuki tahun ke sepuluh kehidupan pernikahan mereka, mereka memutuskan untuk mengadopsi seorang bayi lelaki. 
Sebuah pergumulan yang luar biasa bagi wanita ini, yang mempertaruhkan iman nya kepada Dia yang Maha Kuasa, yang menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada, Dia, yang dikenalnya dengan nama Tuhan Yesus Kristus.
Ketika si anak berusia 14 tahun, entah bagaimana, dia menyadari bahwa orang tua yang selama ini dikenalnya bukanlah orang tua kandung nya. Dia pun mempertanyakan hal tersebut kepada ibu angkatnya.
Sang ibu, dengan kebesaran hatinya pun berjanji untuk mempertemukan anak itu dengan wanita yang melahirkannya di ulang tahunnya yang ke 17, walau ada resiko yang mungkin terjadi, yaitu kehilangan anak semata wayang nya.
Tiga tahun lamanya, wanita ini bergumul dengan dirinya sendiri.
Tiap hari, di dalam doa nya dia mohon kekuatan yang dari pada Nya saja, sebelum dia menerima kenyataan adanya kemungkinan si anak memilih tinggal bersama orang tua kandungnya. Ketaatan sang putra membuatnya semakin teguh, dengan keyakinan dirinya tidak akan dilupakan dan ditinggalkan di masa tuanya.
Namun di malam ulangtahun ke 17 nya, sebuah kecelakaan maut merenggut nyawa anak muda ini, tepat sehari sebelum dia bertemu dengan wanita yang melahirkannya.

Dan hati wanita cantik ini pun memberontak.
Ingatannya melayang ke 17 tahun lalu, ketika ia menyerah untuk meminta kehamilan, dan memutuskan untuk mengadopsi seorang bayi.
Hanya melalui anak ini, Tuhan nya, Yesus Kristus, yang NamaNya diserukannya di setiap helaan napasnya selama lebih dari tiga decade, yang dia yakini merupakan alamat yang tepat ketika dia beseru, Ya Abba ya Bapa, hanya berdiam diri !
Kemarahannya membuat nya mempertanyakan kepercayaan nya sendiri.
Kekecewaan membuat dia meragukan keadilanNya.
Rasa sakit dan pedih di hatinya melahirkan keragu-raguan atas kehadiranNya.
Benarkah Engkau ada dan hidup ?
Sungguh kah Engkau adalah Kasih ?
Penderitaan demi penderitaan ini kah yang Kau sebut Kasih Mu pada ku ?
Saudaraku,
Kadang perahu kehidupan kita pun dibawa Tuhan ke dalam badai.
Kata-kata “Badai pasti berlalu” terdengar bagai lagu pengantar tidur di saat-saat seperti itu.
Dan ketika kita terbangun kembali, pertanyaan-pertanyaan itu pun kembali mengusik kita.
“Apa mau Mu, Tuhan?”
“Kenapa aku, Tuhan ?”
“Bagaimana aku sanggup melaluinya, Tuhan ?”
“Di mana Engkau, Tuhan ?”
Sebelum Tuhan menjawab, karena Tuhan pasti akan menjawabnya, ada baik nya kita mempersiapkan diri kita dan balik bertanya, sudah siapkah kita mendapatkan jawaban Nya ?
Yah, jawabanNya, kata-kataNya, firmanNya, bukan kata hati nurani kita sendiri, bukan kata darah dan daging kita sendiri, bukan kata pikiran kita sendiri, bukan kata perasaan kita sendiri.
Suara Tuhan tidak akan terdengar bagai petir yang menggelegar. Kata-kataNya tidak akan sejelas suara yang ditimbulkan oleh pengeras suara berskala raksasa yang mampu menjangkau ribuan orang di arena balap mobil international. Bahkan SuaraNya tidak sekeras volume televisi di ruang keluarga kita.
Tidaklah mengherankan bila suara Nya terkalahkan oleh suara – suara dunia, yang ramai dibicarakan via beragam media, mulai dari berita di suratkabar, televisi, sosial media, broadcast  di dalam berbagai group chat di dalam genggaman kita dari waktu ke waktu.
Harga yang semakin tinggi.
Kebutuhan yang semakin besar seiring bertambahnya usia anak-anak.
Lapangan kerja yang semakin sempit. Jumlah sarjana yang bertambah dari tahun ke tahun.
Angka pengangguran yang semakin meningkat.
PHK di mana-mana.
Krisis ekonomi di banyak negara maju yang membawa dampak global.
Perceraian bukan lah hal yang memalukan lagi. Kenakalan remaja bukan barang baru.
Kehamilan di luar nikah, pernikahan dini, aborsi, teman tapi mesra, apapun itu namanya, perselingkuhan, bagaikan singa yang mengaum dan siap menerkam mangsa nya yang lengah. 

Keresahan dan kekhawatiran melanda keluarga, bukan hanya para orangtua, namun juga putra-putri mereka.
Sementara di sektor kesehatan, para pengusaha minuman kesehatan justru meracuni kita dengan sejuta ketakutan akan bahaya kencing manis, kolesterol, gagal ginjal, serangan jantung, darah tinggi, kanker, dan setumpuk penyakit lainnya. Rambu-rambu pun di pasang untuk membatasi gerak kita. Hindari ini, jangan makan itu, perbanyak yang ini…… Lengkap dengan ancaman hukuman bila peraturan itu dilanggar : kematian.
Dan buah pohon pengetahuan baik dan buruk itu pun termakan oleh setiap kita.
Sejarah Taman Eden pun terulang kembali.


Sebelum manusia pertama memakan buah pengetahuan baik dan buruk itu, kita telah diberi kuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, atas ternak dan atas segala binatang melata. Bahkan kita diberi kuasa untuk menaklukkan bumi.
Dan ketika kita menerima semua informasi negative tersebut, kita pun termakan oleh pengetahuan.
Kedamaian, sukacita surgawi dan kuasa Nya pun terampas dari kita.
“Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia : jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia” Kolose 2 : 20 - 22
Saudaraku,
Ketika kita menuntut jawaban Tuhan, pada waktu bersamaan, kita pun di tantang untuk mempersiapkan diri kita untuk mendapatkannya.
Apakah kita benar-benar menginginkan jawaban Tuhan atau hanya pelampiasan amarah kita semata ?
Mampukah kita mendengar suara lembut Nya ?
Bisa kah kita menutup telinga kepada suara-suara lain selain suaraNya ?
SuaraNya adalah damai sejahtera, SuaraNya adalah sukacita, SuaraNya adalah pengampunan, SuaraNya adalah kelemahlembutan, SuaraNya adalah kasih.
Bukan ketakutan, bukan kekhawatiran, bukan amarah, bukan kekecewaan, bukan keputusasaan, bukan penderitaan.
Dari pegunungan tertinggi sudah diteriakkan. Di tempat yang paling rendah, bisikannya terdengar. Dan melewati semua koridor pengalaman manusia, kebenarannya sudah didengungkan. Namun siapa yang mendengarkannya ?
Ocehan burung di pagi hari, gemuruh ombak di pantai, desiran angin gurun, nyanyian jangkrik mengiringi malam. Dan ribuan hari yang telah kita lalui sepanjang hidup kita.
Dari hari ke hari, minggu ke bulan dan ke tahun, di setiap akhir hari, berbagai perasaan mengiringi langkah kita ke peraduan. 
Seringkali Tuhan kita tertutup oleh banyak dan besarnya masalah.


Kadang kita mempersiapkan istirahat kita dengan senyum kebahagiaan, rasa puas, bangga, semangat untuk memulai hari berikutnya.
Alarm dipasang agar kita tidak terlambat bangun esok hari, Berbagai keperluan untuk esok sudah kita siapkan di tempat yang mudah dilihat begitu mata terbuka. Tidak ada yang boleh terlewatkan!
Setelah menutup doa kita dengan Amin, bahkan kadang semangat kita pun tidak mampu membuat mata lelah untuk beristirahat.
Namun di hari lain, tangisan dan jeritan hati kita menemani kita menutup hari itu.
Berbagai persoalan yang belum terselesaikan, masalah yang semakin besar, jalan yang sudah buntu.
Ada ketakutan, ada amarah, ada kekecewaan, ada kekhawatiran.
Bahkan kadang, kita pun berharap hari esok tidak pernah datang.
Kita berharap tidak akan pernah bangun lagi, karena bila kita membuka mata kita esok hari, masalah besar itu tetap ada di sana.

Suatu hari, seorang kawan pernah datang berkunjung dengan masalah uang sekolah anaknya. Dia begitu ketakutan, mengingat anak tunggal nya itu adalah satu-satunya harapan nya untuk mengangkat kehidupan mereka. Khawatir anak nya tidak bisa melanjutkan sekolah,  yang berarti hidup mereka pun selesai. Tidak ada harapan akan masa depan yang lebih baik.
Saya menatap nya dalam diam.
Dalam hati saya pun menangis, karena saat itu, saya bahkan tidak tahu apa yang bisa saya makan, sementara kewajiban saya sebagai orang tua di minggu itu sepuluh kali lebih besar dari pada masalah kawan tersebut.
Dan justru di dalam diam itu lah, suara Tuhan jelas terdengar.
Kata demi kata memberondong dari lidah dan bibir saya tanpa sanggup saya bendung, yang kemudian mengalir dengan bebasnya.
 “Percaya saja pada Tuhan kita. Lebih dari sekedar percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, karena iblis pun tahu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan mereka gemetar. Percayakan hidup kita padaNya, percayakan hari esok padaNya, percayakan perjalanan kita padaNya. Biarlah kehendakMu saja yang jadi, dan bukan kehendakku.”
Saya pun tersentak mendengar suara saya sendiri saat itu.
Iman saya pun bangkit.

Kekuatan saya menerobos bagaikan air yang terlepas dari bendungan nya.
Beban terangkat seketika itu juga.
Kasih Tuhan pada kawan saya tersebut memberi saya jawaban atas persoalan saya sendiri.
“Percayakan hidupmu pada Nya, karena rancangan Nya adalah rancangan damai sejahtera yang memberikan padamu masa depan yang penuh dengan harapan.”
“Tuhan kita tidak pernah berubah. Dia yang dulu pernah menolongmu, akan menolongmu lagi. Dia yang menyediakan tiang awan pada waktu siang dan tiang api pada waktu malam di padang gurun bagi bangsa Israel, Dia juga yang akan memeliharamu.”
“Dia bekerja di jalan yang tidak kita ketahui. Dia memberkati umatNya pada saat mereka tidur.”
“Sehelai rambut di kepalamu tidak akan jatuh tanpa Aku ketahui.”
“Sebab beginilah firman Tuhan semesta alam, yang dalam kemuliaanNya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu  - sebab siapa yang menjamah kamu berarti menjamah biji mataNya.” Zakharia 2:8

Bagian tubuh kita yang bergerak reflek, tanpa perintah dari otak kita dan tanpa kita sadari, adalah kelopak mata kita. 
Sekecil apapun debu yang terbang ke arah mata kita, kelopak mata kita akan bergerak dan menutup dengan sendirinya, untuk melindungi biji mata kita.
Kalaupun sang debu itu berhasil mengenai mata kita, tanpa diperintah, kelenjar air mata akan memproduksi air mata yang lebih banyak untuk membersihkan biji mata kita dan menyapu debunya ke pinggir.
Seperti kelopak mata yang menjaga biji matanya, seperti itulah Tuhan menjaga kita !
Apapun kesalahan yang kita lakukan terhadapNya, dosa apapun yang menghalangi kita masuk menikmati hadiratNya, seberapa pun besar nya sakit hati Tuhan karena tingkah laku dan perbuatan kita, secara reflek dan tanpa berpikir panjang, Tuhan akan bereaksi dan bertindak melindungi kita.
KasihNya tanpa syarat, tapi janjiNya bersyarat.
KasihNya ini lah yang membuat Dia tidak dapat berpangku tangan saja melihat anakNya terancam.

Saudaraku,
Selama puluhan tahun, saya memiliki presepsi yang salah pada sebuah ayat di perjanjian lama.
“ Dan Aku akan memberi damai sejahtera di dalam negeri itu, sehingga kamu akan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apapun. Akulah Tuhan Allahmu yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya kamu jangan lagi menjadi budak mereka. Aku telah mematahkan kayu kuk yang di atasmu dan membuat kamu berjalan tegak” Imamat 26 : 6 &13
Kata-kata “kamu akan berbaring dan tidak dikejutkan” mengingatkan saya pada acara tutup peti di beberapa keluarga yang ditinggalkan orang yang mereka kasihi. Yah, kematian. Apalagi kemudian, di ayat berikutnya, kayu kuk pun disinggung oleh Musa sebagai penulis kitab ini.
Come on !  
Hidup ini adalah perjuangan, bagaimana tidak ada kuk ? Hidup ini tidak lah ringan, karena Tuhan mendidik kita, anak-anakNya kan?! Hidup ini berat !
Itu yang diajarkan oleh banyak hamba Tuhan, bukan?!
Jadi, ayat itu pasti bicara tentang kehidupan setelah kematian !! Bukan hidup sekarang, saat kita membaca buku ini !
Puluhan tahun kemudian, Tuhan ijinkan saya melihat kebenaran dari ayat ini, justru ketika saya merasa takut untuk membuka mata pada esok hari karena banyaknya masalah dan musuh di sekitar saya, sampai saya tidak tahu lagi siapa kawan dan siapa lawan saya.
Tuhan membawa saya ke satu titik di mana saya tidak bisa lagi mengeluarkan air mata ketakutan atau keringat kekhawatiran dan kecemasan, karena memang sudah kering !
Saya tidak bisa lagi lebih takut dan khawatir dari saat itu, saya tidak dapat lebih cemas lagi dari hari-hari gelap itu !
Saya hanya bisa bersyukur karena masih dipercaya Tuhan untuk melakukan sesuatu di hari itu.
Saya hanya bisa memujiNya karena Tuhan masih siapkan makan dan minum di hari itu untuk saya.
Saya hanya bisa menyembahNya dengan hancur hati karena merasa tidak pantas untuk menerima semua kebaikan itu.
Tuhanku terlalu baik untuk ku !
Dan pada saat itulah, mata dan hati saya menemukan kebenaran dari Imamat 26 di atas, yang bicara tentang penyertaan Tuhan pada saat bumi masih menjadi pijakan kaki kita.
Ada damai sejahtera, sekarang, justru pada saat saya punya seribu alasan untuk takut dan khawatir. Saya berbaring tanpa merasa takut untuk bangun dan menghadapi para penagih itu ! Saya rasakan langkah ringan walau beban tanggungjawab besar itu masih harus saya pikul.

Hidup ini bukan lah beban. 
Hidup ini tidak lah berat. 
Hidup ini bukan lah perjuangan.
Hidup ini adalah anugrah. 
Hidup ini indah. 
Hidup ini ringan.
Itulah kebenaran ! 
Itulah suara lembut Tuhan.
Mampukah kita mendengar Suara LembutNya sebelum kita menuntut jawaban dari Nya ?

“Aku di sini,
lebih dekat dari baju yang kau pakai,
lebih lembut dari angin yang mengusap kulitmu.
Bukalah pintumu,
dan Aku akan masuk untuk minum bersamamu.”

Rabu, 30 Desember 2015

Belajar sampai Negeri Cina : MAMA

:: MAMA ::
女 + 马 = 妈 artinya Mama
wanita + kuda = Mama 
(wanita yg kokoh / pekerja keras seperti kuda)

为你做牛做马的女人就是妈,你怎能不爱她?
Demi kita ia rela bekerja keras membesarkan anak-anaknya 
bagaikan seekor kerbau dan kuda, 
bagaimana bisa kita tidak menyayanginya ?


3岁时 : 妈咪,我爱你。
Di usia 3 thn : 
"Mama aku sayang kamu"。

10岁时 : 妈,随便啦。   
Di usia 10 tahun : 
"Terserah mamalah"


16岁时 : 我妈真的很烦。  
Di usia 16 thn : 
"Mamaku sungguh menyebalkan" .

18岁时 : 想要离开这个家.
Di usia 18 thn : 
"Rasanya ingin meninggalkan rumah ini"


25岁 : 妈,你当时是对的.
Di usia 25 thn : 
"Ma,  ternyata yang mama katakan  benar"

30岁时 : 我想要去我妈家。
Di usia 30 thn : 
"Aku rindu mengunjungi rumah mama"。  

50岁 : 我不想要失去我妈。 
Di usia 50 thn : 
"Aku tidak mau kehilangan mama"。


70岁 : 只要我妈还能在这,我愿意
Di usia 70thn : 
"Asalkan ada mama disini, itulah kerinduanku"

为了我妈放弃一切• 
Kurela melepaskan segalanya demi mama .

对于妈妈,我们说的话最多的是:
“妈,我衣服在哪?” 
“妈,咱们晚饭吃什么?”
“妈,我能出去么?”
“妈,我饿了。” 
Kata-kata kita yang paling banyak kepada mama adalah : 
"Ma, mana baju ku? 
Ma, nanti malam makan apa? 
Ma, boleh aku keluar tidak? 
Ma, aku sudah lapar" .
  
我们都有一个好妈妈,爱她的请转发。
Kita masing-masing punya seorang ibu yang baik, 
sayangilah dia dan sebarkan lah pesan ini。

祝妈妈,身体健健康康!
我们只有一个妈,怎能不爱她!
Semoga mama sehat selalu!
kita hanya punya satu mama, 
sayangilah dia !

生病时, 妈妈说: 别吓妈妈;
Ketika sakit, mama bilang : 
"Jangan membuat mama takut ya"

吃饭时,妈妈说:别管妈妈;
Saat makan, mama bilang 
"Tidak usah pedulikan mama"

结婚时,妈妈说:别念妈妈;
Saat menikah, mama bilang 
"Tidak usah memikirkan mama ya" 


我有一个好妈妈,
Aku punya seorang ibu yang baik

时光请你别伤害她
janganlah menyakiti mama


如果有一天
Bila suatu hari

当妈妈站也站不稳
Ketika mama kesulitan berdiri

走也走不动的时候,请你紧紧握住她的手
kesulitan berjalan, maka Pegang erat tangannya.


陪着她慢慢走,就像当年她牵着你一样
Temani dia berjalan pelan-pelan , 
seperti dulu ketika kamu kecil, 
dia pernah membimbing dan menggandeng tanganmu.


Selamat Hari Ibu

Sabtu, 19 Desember 2015

Sebongkah Cinta dan Pengharapan

Sabtu siang di teras rumah……
Tukang air baru aja selesai mengirim air gallon pesanan.

Mb Yuyun pun dah ambil cucian nya, dan mangkuk bekas bubur kacang ijo masih ada di meja teras bersama cangkir bekas kopi. 
Sementara Mb Rina lagi beberes di belakang.
Nggak ada yang istimewa.

Mereka yang biasa datang kalo hari libur kayak gini, lagi pada sibuk ngurus anak mereka raport an dan rapat untuk UNAS yang akan digelar beberapa bulan lagi.

Ughhhh….. anak usia sekolah 
Masa-masa itu dah berlalu beberapa tahun lalu.
Venny ku dah kuliah sekarang, di luar kota, pula.

Hari ini seharusnya dia pulang nengokin maminya.

Tapi menjelang libur Natal dan tahun baru ini, kayaknya lebih baik buat dia untuk istirahat dulu di sana. Toh, hari Rabu dah libur dan dia bisa pulang hampir dua minggu.

Venny, Venny…. Anak yang luar biasa.

Sedari dalam kandungan, aku dah tau kalau anak ini akan dipakai Tuhan untuk menjadi berkat.
Masa depannya akan cerah.
Dia akan naik dan tidak akan turun.
Apa saja yang dia kerjakan akan berhasil.
Dia akan menjadi rekan kerja Tuhan di muka bumi ini.

Yah…. Aku dah tau itu sedari dia masih berupa tetesan air belaka, karena Tuhan sendiri yang mengatakannya kepadaku.
Dan aku percaya, karena aku kenal Tuhan aku.

Walau banyak rintangan, tahun demi tahun pun kami lewati bersama.

Aku sadar, aku bukan ibu yang baik buat seorang Venny Melissa.
Aku bukan orang suci.
Aku bukan malaikat.
Aku seorang pendosa.

Aku nggak bisa memberikan contoh sosok seorang ibu idaman buat malaikat kecil aku itu.

Aku cuman punya roh, jiwa dan raga sebagai bekal aku di dunia yang fana ini.

Aku cuman punya iman. Percaya. Keyakinan.
Aku cuman punya Tuhan aku.
Dan aku bersukacita karena itu.
Dan aku menjadi kuat karena itu.
Dan aku menjadi bisa karena itu.

Sudah hampir dua puluh tahun.
Dan mungkin nggak akan ada dua puluh tahun lagi untuk menemani dia.
Dua puluh tahun, the most wonderful years for us !!

Kami habiskan bersama.
Kami tidur bersama,
makan bersama,  
tertawa bersama, 
bermain bersama, 
ber gossip bersama,

Kami pun berdiskusi bersama, 
tentang mimpi kami, 
tentang cita-cita kami

Bahkan kami sering adu argumentasI.
Dan bukan sekali dua, aku dipaksa mengakui, “Venny bener.”

Walau kadang masih kelihatan manjanya,
Pikiran nya jauh lebih dewasa dibandingkan usianya.

Dalam satu kesempatan, rokok dan minuman keras menjadi bahan diskusi kami.

Setiap kali ada yang menasihati aku untuk berhenti merokok, mereka selalu terdiam bila kukatakan, “Kalau non perokok nggak bisa mati, aku pun akan berhenti merokok.”

Namun Venny menyatakan sesuatu yang berbeda, “Minum racun aja sekalian.”
Membuatku terdiam dan berpikir untuk menghentikan kebiasaan itu.

Luar biasa malaikat yang dikirim Tuhan untuk aku itu !

Setiap kali aku dekat dengan seseorang, komentarnya cuman satu “Mana ada orang yang mau tua sendirian?”

Di hari ulang tahunku, selalu ada kata-kata, “Kadonya nyusul yah…… kalau venny dah bisa cari uang”
Membuatku selalu menantikan ulang tahun berikutnya !

Kadang doa ku terdengar egois banget.
Kalau boleh, aku nggak mau bangun hari ini.
Bukan karena aku putus asa, 
tapi kadang rasa lelah dan jenuh menghampiri aku.

Namun cita-cita sang malaikat kecil itu untuk menyenangkan aku, membuatku berteriak
“Tuhan, beri dia kesempatan.”

Aku nggak pernah takut dengan kematian, karena aku tau kemana aku akan pergi setelah gerbang kematian itu.
Yang aku takutkan adalah ketidaksiapan nya menjalani kehidupan ini seorang diri.
Tanpa orang tua, tanpa saudara, tanpa kerabat.
Tanpa sosok yang bisa diajak bertukar pikiran atau memberinya pertimbangan ketika harus mengambil keputusan.

Just like her mom.

Tahun depan, kalau nggak ada halangan, Venny akan menjadi ko-as, sebuah jenjang yang dimimpikan oleh setiap mahasiswa kedokteran di manapun.

Langkahnya dah semakin jelas.
Arahnya dah pasti.
Walau sempat disimpannya sendiri, karena dia paham banget keadaan aku, aku tau, itulah mimpinya sedari kecil.

Beberapa teman mengatakan aku nggak akan terlantar di hari tua aku.
My little angle will not leave me alone. She will take care of me.

Tapi bukan itu yang aku harapkan, sama sekali bukan.
Dia punya kehidupan nya sendiri.
Dia punya masa depannya sendiri.
Masa depan yang penuh harapan.
Dan aku nggak mau merusak nya dengan kehadiran aku.

Generasi yang berbeda, jalan pikiran yang berbeda, cara yang berbeda pula.

Tapi kemanusiaan itu sama ! Makhluk social itu sama ! Human being itu sama. Dan kepada para “manusia” inilah Venny akan menghabiskan hidupnya.

“Kalau tau dicubit itu sakit, jangan mencubit orang. Kalau suka disapa orang, lakukan lah dulu kepada orang lain.”

Ajaran itu masih berlaku, sampai berabad-abad kemudian !

Satu kali, calon dokter hewan ini pernah berkata 

“Berhubungan dengan binatang tergantung bagaimana kita memperlakukan mereka. Kita memperlakukan mereka dengan baik, kita pun akan mendapatkan feedback yang baik pula.  Tapi berhubungan dengan manusia, feedback yang kita dapatkan belum tentu sebaik yang telah kita berikan”

Pondasi analisa yang amat kuat !

Aku temukan sebuah pribadi lagi di dalam nya : pribadi yang siap untuk kecewa sama manusia tanpa harus berhenti berbuat baik. Luar biasa !

Membalas kejahatan dengan kejahatan ? Buat apa ?

Balasan kita terbatas, karena waktu kita terbatas, tenaga kita terbatas, kemampuan kita pun terbatas.

Venny, don’t you know, I’m so proud of you ?

Tetap jaga hati ya ven

Dan jangan pernah jemu untuk berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. ( Surat kepada Jemaat di Galatia 6 : 9 )

Nggak perlu kaget ama kenyataan di dunia yang jahat ini.

Venny akan melihat orang baik sering tersakiti. Kenapa ?
Karena dia selalu mendahulukan orang lain, sehingga nggak ada ruang untuk kebahagiaannya sendiri.

Orang baik kerap tertipu. Kenapa ?
Karena dia nggak pernah punya prasangka jelek, sama seperti dirinya sendiri yang nggak pernah merencanakan sesuatu yang jahat.

Orang baik acap kali dinista.
Karena dia nggak memiliki almari dendam di dalam kalbunya.
Jika venny buka laci-laci hatinya, yang venny temukan adalah tumpukan cinta dan kasih.

Orang baik juga sering meneteskan air mata, karena dia hanya ingin membagi senyum dan tawanya ke orang lain, bukan air matanya.

Tuhan sayang sama orang baik.
Itu sebabnya banyak orang baik yang cepat dipanggil pulang,
Agar penderitaannya di sini pun terangkat.

Adil ? Amat sangat adil !
Itulah sifat Tuhan kita.


Karena hidup adalah pilihan dengan segala konsekuensinya,
maka memilihlah sesuai dengan nuranimu




Minggu, 06 Desember 2015

Pojok Inspirasi : BELAJAR YANG KALIAN SUKA

(Repost dr kisah Master Mentalist Deddy C - School of Parenting)

Kisah ajaib di siang suntuk saat jemput sekolah.

"Pa, tadi lomba renang. I get urutan ke 5!!!"

" Woooow, I'm so proud of you. You are amazing!!!!"

" Yeaaaaaay"

Ibu-ibu entah arisan di belakang,
"Pak, yang tanding kan per 6 orang. Masak anaknya urutan ke 5 malah bangga. Anak saya aja urutan ke 3 saya bilang payah. Nanti malas, Pak."

"Hahaha, iya yah. Wah, saya soalnya waktu kecil diajari ayah & ibu saya kalau tujuan renang itu yah supaya gak tenggelam aja sih. Bukan supaya duluan sampe tembok. Hehehe"

"Jangan gitu mas ngajar anaknya. Bener deh nanti malas."

"Hahah, anak saya gak malas kok mbak. Tenang aja, kemarin mathnya juara 3, catur nya lawan saya aja saya kalah sekarang."  Eh, anu Mbak, saya juga gak masalah punya anak malas di hal yang dia gak bisa atau gak suka. Yang penting dia usaha. Daripada anak rajin tapi stress punya ibu yang stress juga marahi anaknya karena cuma dapat juara 3 lomba renang."

"Hehehe, Mas, saya jalan dulu yah."

"Gak renang aja, Mbak?"

 Senyap......

Ya, ini kejadian benar dan tidak saya ubah-ubah.

Apa sih yang sebenarnya terjadi secara gamblang?

Tahukah si ibu kalau Azka luar biasa di catur nya?

(Penting? NO!! Sama dengan Renang)




Atau Azka juga mendalami bela diri yang cukup memukau dibanding anak seusianya.
Atau.. Azka.. Atau Azka...
Banyak kelebihan Azka..
Sama dengan kalian.
 Banyak kelebihan yang kalian punya.
Artinya banyak kelemahan yang kalian punya juga.

Tapi,
apabila para orang tua memaksakan kalian sempurna di semua bidang dan menerapkannya dengan paksaan, maka hanya akan terjadi 2 hal.
1. Si anak stress dan membenci hal itu.
2. Si anak sukses di hal itu dan membenci orang tuanya (Michael Jackson contohnya)

Yuk, kita lihat apa yang baik di diri anak kita. (bila anda orang tua)
Yuk, kita komunikasikan apa yang kita suka (bila kita anak tersebut)

Mengajari dengan kekerasan tidak akan menghasilkan apapun. 
Memarahi anak karena pelajaran adalah hal yang bodoh.
Saya sampai sekarang masih bingung, 
mengapa naik kelas tidak naik 
adalah hal yang menjadi momok bagi ortu 
(kecuali masalah finansial)

Siapa sih yang menjamin naik kelas jadi sukses kelak?
Saya ! 
Saya 2 kali tidak naik kelas...
Yes, iam. 
Proudly to say.


Ayah saya ambil raport.
Merah semua.

Dia tertawa,
"Kamu belajar sulap tiap hari, kan? Sampai gak belajar yang lain."

"Iya, Pa."

"Sulapnya jago. Belajarnya naikin yuk.. Gak usah bagus. Yg penting 6 aja nilainya. Ok?Pokoknya kalau nilai nya kamu 6, Papa beliin alat sulap baru. Gimana?"

Wow... My target is 6.....
Not 8.. Not 9...
NOT 10!!!!
It's easy..... Its helping... Its good communication between me and my father....
Its a GOOD Deal...

Dan Ibu saya? Mendukung hal itu.

Apa yang mereka dapat saat ini?
Anaknya yang nilainya tidak pernah lebih dari 6/7 tetap sekolah. 
Kuliah.
Jadi dosen tamu .. 
Mengajar di beberapa kampus.
Oh.. Anaknya...

Become one thing they never imagine...:  World Best Mentalist

Apa yang terjadi kalau saat itu saya dihukum. Dimarahi. Di larang lagi bermain sulap?
Apa? Maybe I be one of the people working on bus station.
(other Bad... Not Great)

Yuk, stop memarahi anak krn pelajarannya. Karena ke unikan nya.
Kita cari apa yang mereka suka.
Kita dukung.


You never know what it will bring them in the future.
Might indeed surprise you.
--Deddy Corbuzier-

Kenangan si Putih Abu Abu


Orang bilang, masa SMA adalah masa yang paling indah dalam hidup ini.

Namanya anak yang baru gede, anak yang sudah merasa gede, anak yang mencoba untuk gede, anak yang sok gede.....

Apapun istilahnya, masa-masa ini adalah masa-masa di mana seseorang nggak bisa lagi dibilang anak kecil.

Susah dilarang, guys !! Itu cirinya. Tapi juga nggak bisa dibiarkan begitu aja kan?!